Menghadapi era globalisasi ekonomi, ancaman bahaya laten terorisme, komunisme dan fundamentalisme merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Disamping itu yang patut diwaspadai adalah pengelompokan suku bangsa di Indonesia yang kini semakin kuat. Ketika bangsa ini kembali dicoba oleh pengaruh asing untuk dikotak kotakan tidak saja oleh konflik vertikal tetapi juga oleh pandangan terhadap ke Tuhanan Yang Maha Esa.
Pemahaman Nasionalisme yang berkurang
Di saat negara membutuhkan soliditas dan persatuan hingga sikap gotong royong, sebagian kecil masyarakat terutama justru yang ada di perkotaan justru lebih mengutamakan kelompoknya, golonganya bahkan negara lain dibandingkan kepentingan negaranya. Untuk itu sebaiknya setiap komponen masyarakat saling berinterospeksi diri untuk dikemudian bersatu bahu membahu membawa bangsa ini dari keterpurukan dan krisis multidimensi.
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

Kita memang sedang mengalami krisis nasionalisme. MUdah-mudahan tidak semakin parah. Artikel-artikel seperti ini sangat berguna.
btw aku baru memposting artikel tentang ancaman pembubaran terhadap Ahmadiyah :
http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/04/23/negara-tidak-berhak-membubarkan-ahmadiyah/
Terima kasih
Salam Merdeka!
ass…
sy msh bingung hrs milih dkung sypa??
coz sy g tw sypa yg pling bnr??!!
tp sy stuju sm comment’na …. isi”na jgn sling mnyalahkan,,perbaiki akhlak dri sndri dlu…
wass..
BAGUS
nasionalisme tidak menjadikan kita bersikap subyektif dalam menilai. Menutup diri terhadap kebenaran. Tp nasionalisme untuk membuat identitias bangsa ini kuat. Bukan bangsa yang tunduk terhadap asing dan modal.