Hizbut Tahrir Indoesia Anti Demokrasi
Setelah berlangsungnya konfrensi khilafah sedunia yang berlangsung pada hari minggu 12 agustus 2007 terbetik berita yang sangat valid bahwa HTI tidak menutup kemungkinan untuk menjadi sebuah partai politik anti demokrasi.
Setelah memberikan pernyataanya kepada publik, jubir HTI Muhamad Ismail Yusanto mengatakan bahwa HTI tidak menutup kemungkinan untuk menjadi parpol. Namun menurut Yusanto pihak HTI tidak sependapat dengan semangat demokrasi yang dianut parpol islam lainya. Karena menurut pendapat HTI yang tentunya tidak mengakui keberadaan PANCASILA sebagai sebuah dasar negara apalagi ideologi. Demokrasi membawa jargon dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Tidak sesuai dengan dasar ideologi HTI yang menganggap Khilafah Islamiyah (kepemimpinan islam dan hanya mengakui keberadaan islam) bahwa kekuasaan hanya pada Allah dan kepada kemaslahatan Ummat.
HTI anti Demokrasi dan Pancasila
Semangat hari kemerdekaan justru tidak disinggung sama sekali oleh HTI yang ada justru penentanganya terhadap ideologi pemersatu PANCASILA dan Demokrasi. Sebuah organisasi yang dikenal dengan tindakan brutal dan anarkis ini sama sekali tidak merasa perlu menghormati PANCASILA. Bahkan banyak dari mereka enggan melakukan hormat kepada sang merah putih. Tidak terbayangkan bahwa sebuah organisasi RADIKAL yang telah mencoreng nama Islam akan menjadi partai politik penebar teror. Hanya satu kata, satu himbauan, Jika memang anda mencintai Indonesia, dan menginginkan Indonesia menjadi rumah bagi berbagai umat beragama dan menjaga keutuhan Indonesia dari Sabang sampai Merauke maka dukunglah PANCASILA dan hindari organisasi radikal seperti HTI. Merdakaaa !!!
Link : http://www.eramuslim.com/berita/nas/7812152936-hti-tak-tutup-kemungkinan-jadi-parpol.htm
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

Dear,
Setuju. Aku dukung. “Merdakaaa…” eh ketularan salah ketik, MERDEKA.
MEREKA !!!!
Walah, salah ketik juga. MERDEKA ding !!!
paham yang melunturkan rasa hormat terhadap negara seperti ini harus dihabisi, mereka ini racun negara !!! tolak negara agama, go to hell to theocrazy
Diakui atau tidak aliran tersebut memang ada, dan mereka berasal dari kalangan yang berpendidikan. Ironisnya mereka tidak peduli terhadap yang namanya negara Indonesia dan mereka enggan memberikan sikap hormat kepada sang merah putih dengan alasan perbuatan tersebut adalah bid’ah dan syirik.
kalo ane mengenal HTI, ga pernah mereka melakukan aksi brutal lho. Malah mereka mengajak untuk mempertahankan kesatuan negeri, bahkan untuk memperluas negeri ini menjadi negeri super power. Apakah ga bangga kita ini? Ingat bahwa Islam untuk semua manusia, maka Islam mengakui keyakinan agama lain, pluralitas tetap dijunjung tinggi.i
test
@ dwi
omong kosong! gw pikir ini cuman propaganda anti islam!
tapi gw dah cek kemana mana ternyata benar HTI memang ANTI DEMOKRASI dan ANTI PANCASILA
katanya mereka, ngapain pancasila dibelain…? pancasila ga punya akhirat…
gimana nih, pusing dong orang awam kaya saia ini…
Tenang saja. HTI nggak akan ikut pemilu. Sumber resmiya ini http://www.hizbut-tahrir.or.id/news/index.php/2007/08/13/hizbut-tahrir-indonesia-belum-berpikir-ke-politik/
Kalo cuma sekedar wacana, mau anti demokrasi anti pro demokrasi ya sah-sah saja lha di amerika yg ngakunya negara demokrasi saja, punya pemiiran anti-demokrasi juga boleh kok. Indonesia adalah negara demokrasi. Jadi harus mau menghargai kebebasan berpendapat orang atau kelompok lain. Kalo nggak begitu indonesia namanya nggak demokratis tapi otoriter.
Lagipula, yg mustinya kudu diwaspadai oleh NKRI itu ya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Organisasi Papua Merdeka, atau Republik Maluku Selatan atau dll yg punya bendera bintang kejora. HTI kadernya anteng2. Ngga ada ceritanya HTI angkat senjata macam GAM atau OPM. Jadi gak perlu terlalu dikhawatirkan.
demokrasi sistem dari penjajah bkn dari nenek moyang kita, kapan kita mau merdeka?
apaan tuh? Syariat islam makanan orang arab, indonesia ya pancasiila, bukan bikinan penjajah! tapi Pancasila bikinan indonesia asli bo! MErdeka!
negara teokrasi (syariah) justru merendahkan umat beragama. Ketika seseorang harus dipaksa secara hukum untuk melaksanakan perintah agama, maka keikhlasannya menjadi dipertanyakan. Apakah karena sungguh cinta Allah atau karena takut polisi?
di dalam negara demokrasi, negara mengatur hubungan horisontal antar manusia, tetap hubungan manusia dng Tuhannya biarlah Tuhan yang mengetahui.
Lho, kabarnya Pancasila sendiri harusnya digugat lho.
Disaat sila kesatu menyatakan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, agama yang 5 lainnya tidak sedang menganut Ketuhanan yang satu. Ada yang 3, bahkan ada yang “maruk” sampai enam…
Malah ada yang menganut leluhur yang ribuan.
Dan sisa sila yang lain bisa diartikan sendiri. Karena orang – orang Indonesia itu berefleksi terbalik dari sila – sila yang dipampang di Istana Negara.
F.N. : Mahasiswa / Mahasiswi di Indonesia kabarnya tidak tahu apa itu sila – sila Pancasila, selain yang kesatu.
wah aku aja yang mimpin negeri gak tahu apa itu pancasila, biarin aja rakyat saya miskin, itu krn pancasila. tanah tak jual ke pengusaha asing juga karn pancasila, masa bodoh ah….pancasila membiarkan saya untuk memperkaya diri dan tak mau ngerti rakyat.
Eh, di artikel setelah artikel ini kok tidak bisa diberi komentar? Katanya demokrasi?
(** Kabur **)
Alhamdulillah, saya mengikuti acara Konferensi Khilafah Internasional yang diadakan HTI. saya tersadar bahwa sejatinya seluruh negeri kaum muslimin dicengkeram oleh kekuatan Kapitalisme Global yang dimotori oleh AS. Seluruh negri di kuras kekayaannya. Di buat konflik yang memilukan seperti di Iraq, afganista yang memakan korban jutaan jiwa manusia akibat demokrasi yang diagung-agungkan AS.
Acara tersebut sangat-sangat membangkitkan Hari Kemerdekaan seluruh umat manusia dari penjajahan Kapitalisme, semua tersadar dan bersemangat untuk membebaskan diri dari penyembahan selain Allah.
HTI yang bergerak dengan pemikiran dan TANPA KEKERASAN, berhasil membuat acara tersbut tertib dan rapi tanpa aksi “brutal” yang dituduhkan oleh orang-orang picik.
Sungguh,saya rindu acara tersbut dan cita-cita yang besar mepersatukan ummat. Semoga HTI terus bergerak dengan dakwahPemikiran Islam dan terus menghadang teroris radikal kapitalisme yang telah menelan banyak korban nyawa.
Marilah kita semua dukung HTI untuk terapkan Islam di seluruh negeri kaum muslimin,cegah perpecahan dengan ukhuwah islamiyah. Jangan biarkan Indonesia hancur di tangan Teroris Kapitalisme, yang berpura-pura membela Pancasila dan demokrasi,sejatinya mengeruk kekyaan ummat dan mensengsarakan rakyat.
Mari bahu-mambahu terus mensuarakan syariat dan khilafah Islamiyah. Insyallah sebntar lagi akan kembali!
HTI tidak mengancam NKRI, justru HTI menjaga kesatuan negara ini. Dengan tidak menghilangkan pluralisme yang ada. Ini bisa terlihat ketika timor-timur yang akan terlepas dari NKRI, justru HTI yang berteriak paling lantang agar timor-timur tidak berpisah dari kesatuan NKRI. HTI justru lebih nasionalis dari partai nasionalis yang ada. Di kala itu malah partai yang berideologi nasionalis malah membungkam mulutnya. Justru dengan ideologi yang dibawa HTI, Indonesia bisa mengolah kekayaan alamnya dengan mandiri, dan indonesia akan bergabung dengan negara-negara keren yang lain. tinggal tunggu waktu. dunia akan kembali dikuasai oleh orang orang keren. yang tentunya beriman. salah revolusi putih, revolusi pemikiran tanpa kekerasan.
Maaf kami bukan orang radikal, radikal itu hanya tolak ukur dari satu ideolgi, dan ideologi buatan manusia itu tidak mutlak, kita bisa menolaknya, berbeda halnya dengan ideologi buatan pencipta manusia. salam
Saya seorang MUSLIM tetapi saya merasa tatanan kehidupan yang ada saat ini sudah cukup baik. Yang namanya syariat islam sudah barang tentu akan lebih berpihak kepada umat islam saja meski pun tujuan mereka membangkitkan kejayaan dan islamisasi di indonesia tetapi apakah akan ada keadilan bagi umat beragama lain?
Apakah seandainya ada yang namanya SYARIAT KRISTEN, SYARIAT HINDHU, atau SYARIAT BUDHA akan diterima seluruh umat? Bukankah sudah saatnya kita tidak melibatkan agama dalam dunia politik?
MERDEKA INDONESIA…MERDEKA PANCASILA !!!
HTI bukan ABRI bukan POLRI pendukungnya pun hanya SEGELINTIR bagaimana HTI bisa menjadi pahlawan? PAHLAWAN KESIANGAN?
negara teokrasi (syariah) justru merendahkan umat beragama. Ketika seseorang harus dipaksa secara hukum untuk melaksanakan perintah agama, maka keikhlasannya menjadi dipertanyakan. Apakah karena sungguh cinta Allah atau karena takut polisi?
Merdeka!
Mau ikut komentar neh! wah dari artikel ini…mirip ama yang di usung beberapa kader Golkar, Partai Demokrat dan juga PDIP tentang perlunya partai polotik kembali ke asas tunggal Pancasila Awalnya biasa2 saja dan memang kenyataannya sekarang banyak yang g ngeh deb\ngan pancasila termasuk anak-anak SD. Tapi setelah diteliti lebih lanjut, ternyata itu cuman rekayasa asas tunggal.
Usulan beberapa anggota bahkan mungkin Fraksi Golkar, PDIP dan Demokrat sendiri untuk mengubah klausul asas partai dalam UU Partai Politik dari ‘tidak boleh bertentangan’ menjadi ‘harus berasaskan’ Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu diluruskan. Anggota ketiga fraksi DPR RI tersebut mengaitkan konflik, separatisme, perda bernuansa syariah, dan kerapuhan sendi negara dengan tidak dipakainya Pancasila sebagai satu-satunya asas partai (Republika, 13-14 September 2007).
Namun, rekayasa asas tunggal lebih memperlihatkan ketakutan berlebihan terhadap Islam ketimbang ingin menerapkan Pancasila. Buktinya, mereka yang berlatar belakang partai berasas Pancasila juga tidak luput dari korupsi, bahkan sempat melindungi kadernya yang menjadi terpidana korupsi, menjual aset bangsa kepada asing, menyerahkan ruang milik bangsa demi uang, liberalisasi pendidikan, dan lain-lain. Selain itu, ada kekhawatiran kemenangan partai-partai Islam, seperti terjadi di Aljazair, Palestina, Mesir, dan Turki, akan memengaruhi peta politik Indonesia. Sekalipun tidak eksplisit menyebut asas Islam sebagai penyebab konflik dan separatisme, namun opini anggota DPR dari Golkar, Idrus Marham, yang mengaitkan asas Islam dalam berpartai dengan kedua hal tersebut jelas tidak berdasar. Faktanya, Islam justru pencegah konflik dan peredam separatisme, seperti terbukti di Aceh. Setelah jatuhnya orde baru yang mewajibkan asas tunggal Pancasila, Presiden BJ Habibie mengubah strategi dengan mengembalikan keistimewaan Aceh melalui legalisasi syariah Islam, meski sebatas aspek ibadah, adat, pendidikan dan peran ulama, selain yang sudah diberlakukan, semacam hukum pernikahan, warisan, perbankan, dan lain-lain.
Implementasi syariah Islam adalah pintu masuk perdamaian Aceh. Menurut Mayjen (purn) Sulaiman AB (2005:108-109), pemerintahan Habibie menilai penerapan syariat Islam adalah alternatif solusi. Perundingan Helsinki memang menentukan, tapi tanpa penerapan syariah Islam, juga bencana gempa-tsunami, mustahil terjadi pengalihan wacana berpikir rakyat Aceh, yang sebelumnya terobsesi referendum dan kemerdekaan.
Implementasi Syariat Islam secara terbatas itu adalah counter ideas (wacana tandingan). Lahirnya UU Nomor 44/1999 dan UU Nomor 18/2001, dan akhirnya UU Nomor 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh, adalah karena disetujui oleh partai/fraksi, baik yang berasas Pancasila maupun Islam. Partai-partai berasas Pancasila (Golkar dan PDIP) adalah dua partai terbesar yang kumulasi suaranya melebihi 50 persen.
Fakta berbicara
Indonesia memang masih menghadapi persoalan konflik dan separatisme. Namun, itu terjadi di Maluku dan Papua, yang tidak didominasi kaum Muslimin dan partai berasas Islam. Sebaliknya, Golkar dan PDIP lah yang menguasai daerah yang masih menyisakan persoalan konflik dan separatisme tersebut. Golkar dan PDIP meraih 11 dan 10 kursi dari 45 kursi DPRD Provinsi Maluku. Sementara dua partai berasas Islam terbesar, PPP dan PKS hanya meraup empat dan lima kursi. Adapun di Papua yang masih kental dengan separatisme dan rekayasa negara asing, ada tiga partai dominan, yakni Golkar (15 dari 58 kursi DPRD Papua), PDIP (delapan), dan PDS (enam). PPP dan PKS masing-masing hanya mendapat satu kursi.
Selanjutnya, mengenai penerapan perda syariah, yang menjadi argumentasi penolakan asas Islam dalam berpolitik dan berpartai, antara lain disampaikan anggota DPR dari PDIP, Ganjar Pranowo. Penting dicatat, sampai saat ini hanya penerapan syariah Islam di Aceh yang dapat disebut sebagai penerapan perda-perda bernuansa atau perda-perda syariah Islam. Adapun daerah-daerah lain tidak bisa disebut menerapkan perda syariah Islam karena Islam bukan sumber hukum perda-perda tersebut, meskipun perda-perda itu juga tidak bertentangan dengan Islam.
Alasan berikutnya adalah perda-perda itu bertumpu pada penjagaan moralitas publik, serta tujuan penciptaan ketertiban dan keamanan umum, sebagai salah satu amanat UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Bahkan, di beberapa daerah seperti Jawa Barat, perda pengaturan minuman keras dibuat sejak era Soeharto. Jika dikaitkan dengan alasan penunggalan asas partai, maka alasan munculnya perda-perda yang dianggap bernuansa syariah Islam itu justru memukul balik ide tersebut.
Daerah-daerah yang getol menerapkan perda demikian adalah daerah-daerah yang didominasi Partai Golkar, yang berasaskan Pancasila. Kita bisa telisik misalnya pada tiga daerah di Sulawesi Selatan yang dianggap termaju dalam penerapan perda yang disebut bernuansa syariah Islam, yakni Kabupaten Bulukumba, Takalar, dan Maros. Data Pemilu 2004 menunjukkan Golkar meraih 11 kursi dari 35 kursi DPRD Kabupaten Bulukumba, sedangkan PPP dan PKS meraih empat dan dua kursi. Di Kabupaten Takalar, Golkar menyapu 16 dari 30 kursi DPRD, sedangkan PPP dan PKS hanya mendapat satu dan dua kursi. Begitu pula, di Kabupaten Maros, Golkar meraup 13 dari 30 kursi, sedangkan PPP dan PKS masing-masing dua dan tiga kursi.
Ada pengecualian, di Provinsi Bali yang didominasi PDIP (28 dari 52 kursi DPRD Bali), dan Golkar (13 kursi) tidak ada penerapan perda bernuansa syariah Islam, tapi justru hukum, adat dan ibadat Hindu Bali yang mengikat semua penganut agama, termasuk Muslim. Sementara itu, di daerah Manokwari yang didominasi Golkar dan PDIP diupayakan Perda Kota Injil. Jadi, perda-perda yang disebut bernuansa syariah Islam dibuat di daerah-daerah yang didominasi partai berasas Pancasila, dan kepala daerah yang dicalonkannya. Begitu pula perda-perda berbasis agama lain, diinisiasi oleh partai-partai serupa, yang ironisnya diberlakukan untuk semua pemeluk agama.
Partisipasi politik
Rekayasa asas tunggal sebenarnya melengkapi upaya lain untuk mengembalikan hegemonic party system, seperti strategi orde baru. Rekayasa lain adalah membentuk pemilihan sistem distrik di DPRD kabupaten/kota, menghambat kepengurusan partai di level kecamatan, desa/kelurahan hingga RT/RW, pengaturan anggota DPRD oleh surat edaran mendagri dan sebagainya. Namun, itu menjadi tidak mudah karena persaingan sesama partai sekuler justru lebih keras karena pasar pemilih yang diperebutkan sama. Apalagi, Partai Demokrat dan PAN paling beruntung dengan sistem Pemilu 2004, di mana persentase perolehan kursinya jauh di atas suaranya. Mereka ‘merebut’ kursi Golkar dan PDIP. Dampak pemaksaan asas tunggal adalah turunnya partisipasi politik rakyat dalam proses politik formal, yang terlihat pada Pemilu 1997. Namun, ketika aturan asas tunggal dicabut, angka golput menurun tajam, meski naik lagi pada Pemilu 2004 akibat gagalnya partai dan lembaga-lembaga negara dalam menyerap aspirasi rakyat, membantu menyelesaikan problematika, dan meningkatkan kesejahteraannya.
Sebenarnya, telah diungkap banyak kalangan, antara lain Prof Mahfud MD (2007:243) bahwa Pancasila adalah hasil kompromi dari perjuangan pemberlakuan Islam. Karenanya, masuk akal untuk tidak mempertentangkan Islam dan Pancasila.
nah lo gimana?
apapun itu,,siapapun itu,,pokoknya klo melawan pancasila,,berarti ngelawan bangsa indonesia,,so ngelawan gua donk,,
jadi ga ada kata-kata melawan pancasila,,bukan soal agama,,budaya atau apapun,,tapi [pancasila adalah landasan dari bangsa indonesia,,otomatis klo ada orang yang ingin menghasncurkan landasan pancaisla brarti dia ingin menghancurkan bangsa Indonesia,,kITA TIDAK SETUJU..
MERDEKA
MAU DENGAN LANDASAN AGAMA KEK, SUKU KEK SYARIAT KEK POKOKNYA ORANG YANG MAU MENGGANTI IDEOLOGI PANCASILA HARUS DI BANTAI DAN DI TUMPAS! HIDUP PANCASILA !!!
Yang merusak IDEOLOGI PANCASILA dan menindas orang-orang yang ga berdaya adalah PEMERINTAH itu sendiri.Banyak kepala desa,bupati,dan orang d pusat pemerintahan
yg KORUPSI.jd mana bs negara kita ini MERDEKA REK…..jadi orang kayak gitu ga pantes jalanin roda pemerintahan d negara kita ini.kesimpulannya mari kita berantas, kita hukum MATI orang kayak gitu dan 1 kata buat mereka yaitu BAANGSAAAAT….!!! (jadi orang tuh jangan jadi bisanya pengekor tapi harus bisa jadi PELOPOR)
Yang merusak IDEOLOGI PANCASILA dan menindas orang-orang yang ga berdaya adalah PEMERINTAH itu sendiri.Banyak kepala desa,bupati,dan orang d pusat pemerintahan
yg KORUPSI.jd mana bs negara kita ini MERDEKA REK…..jadi orang kayak gitu ga pantes jalanin roda pemerintahan d negara kita ini.kesimpulannya mari kita berantas, kita hukum MATI orang kayak gitu dan 1 kata buat mereka yaitu BAANGSAAAAT….!!! (jadi orang tuh jangan bisanya jadi pengekor tapi harus bisa jadi PELOPOR)
SORRY ralat brow….!
Saatnya kembali ke ASAS TUNGGAL yaitu Islam sebagai dasar negara. MERDEKA!
KAsihan toh SAMPAI DETIK INI INDONESIA MASIH MENGGUNAKAN IDEOLOGI PANCASILA …BUKAN SYARIAT ISLAM …
HIDUP PANCASILA … KASIHAN DEH LU NYANG PENGEN BIKIN SYARIAT ISLAM DI INDONESIA …. KASIAN
klo aq pandang secara positif,sejarah pencetusan Pancasila ini gak main2 broo…kebanyakan dulu pencetusnya org2 muslim intelek yg gak diragukan lagi syariat maupun kedalaman ilmunya,klo gk prcaya buka deh buku sjarah yg asli (asli..lho), bro…perlu kalian pikir,apakah landasan beragama kalian udah betul, so klo syariat Islam diterapkan di Indonesia siapa yg akan meng-guarantee eksitensi bangsa ini, klo dilihat sejarah nabi, syariat Islam hanya bisa ditegakkan jika trbentuk seorang Khalifah yg betul2 khalifah, klo org2 HTI gak mau hormat pada Sang Merah Putih, brarti org2 ini non-sens broo,gak pernah buka sejarah Nabi, di perang Uhud aja pasukan Nabi aja mati2an pertahankan bendera>>>karena kehormatan,broo HTI Anda ngomong seolah Anda ini bukan bangsa atupun warga negara Indonesia, warga negara mana Anda ????? buat diketahui aja broo…negara-negara maju kelakuannya malah lebih Islami dari negara kita, gak percayaa ??? nih contohnya;
- Singapura : negara yg trkenal bersih dari smpah, di Indonesia ?? bah radikal2 yg doyan buang sampah sembarangan, kali/sungai pada mampet oleh sampah, banjir2 looh,>>>>perbaiki dulu tuh kelakuan
- negara barat : supporting seluruh konservasi alam di dunia,penyelamatan es di Kutub utara,
buang sampah gak smbarangan,
itu kelakuan2 kecil bangsa lain yg mana bangsa kita belum bs/msh jauh dari itu,
soo…brooo….perbaiki dulu tuh kelakuan, kembali ke ajaran agama masing2 tekuni,jangan asal njeplak aja tuh omongan sampah,kelakuan kayak demit, soo..kalo kita udah betul-betul utuh melaksanakan ajaran agama, pasti deeh yg ada hanyalah persatuan di atas keberagaman, ayoo broo HTI kita bangun bangsa ini, jauhkan pemikiran2 kotor, kembali ke ajaran secara murni,
tenaga& pemikiran Anda masih sgt diperlukan utk kemajuan bangsa & negara ini !
Pancasila emang udah top utk Indonesia, gak ada negara manapun yg asas pertamanya;
Ketuhanan YME (Qul huwallahu ahad-Al Ikhlas-red.)>>dasar keimanan.
Merdekaaaaaa…….!
PAncasila sudah harga mati..
Jadi setiap orang atau golongan yang berhaluan berbeda dengan pancasila berarti sudah menentang bangsa Indonesia sendiri..
apalagi mengatakan bahwa pancasila perlu diganti dengan yang lainnya..
negara Indonesia terdiri dari beragam agama, suku, budaya..
Oleh sebab itu PAncasila dijadikan sebagai dasar,Ideologi negara..
saya bingung dengan para gerakan ekstrim/separatis seperti ini yang menganggap diri/agamanya paling benar..
negara Indonesia bukan negara Islam, krena itu lah dibuat pancasila sebagai dasar negara.. kalau mau menjadi negara islam silahkan pergi ke Iran..
saya rasa nilai pancasila gerakan seperti ini pasti merah atau 0 disekolahnya,,
sehingga tidak memiliki rasa integritas, pancasila, kebhinekaan yang tinggi terhadap bangsa ini..
sangat miris mengingat, meskipun agama islam memiliki persenan tertinggi di Indonesia,, saya yakin masih lebih banyak penganut “Islam yang Benar”.
Islam yang saya kenal yang mengenal kerukunan, toleransi, juga rasa persatuan, menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan…
Oleh sebab itu kita perlu bersatu untuk tetap memegang teguh Pancasila sampai titik terakhir,,walau kita berbeda agama, suku, ras, dll..
PANCASILA HARGA MATI
HTI itu ngerti gak sey?
apa dia di bodohin orang ya… (chk… ckh…chk…)
apa dia mau jadi pemimpin ya… (makar donk = harus MATI! gak ada urusan sama HAM)
kalo mau mendirikan negara ya jangan di Indonesia bung!
cari pulau lain lah… tuh kaya’ colombus dahulu. nyari sendiri.
coba pelajarin dulu dech jazirah Arab.
yang bener tuh cuman d Mekah & Madinah aja. yg laen masih jahiliyah.
Adzan aja kagak bisa!
mau aja luh di bodohin.
Indonesia ini dah bener… (nyangpunye dah ketemu sama tungket sahabat Rasululloh)
cuma karena PROSES MERDEKAnya yang bukan “diberi” (hadiah) oleh penjajah, maka sampe sekarang kita disusahin terus, diobok-obok terus. spy… (belom tau 7annya).
selain itu sumber kekayaan Alam & potensi manusianya yg gw bilang sangat excellent.
(bukan excellent u/ dibodohin…)
MAKA!!!
ikuti IMAM! rapatkan barisan agar tidak ada jin & setan yg mengganggu!
Jika IMAM (Yth Bpk Presiden SBY) yakin akan keberhasilan, kita sbg MAKMUM harus ikut… jangan bikin gerakan sendiri.
maknai jika Anda beragama. Jangan mau dibikin bodoh!
HATI-HATI dengan lingkungan anda!
karena banyak orang asing yg berkeliaran. yg tidak tahu urusannya apa.
termasuk LSM yg sering mengundang WNA k Indonesia.
waspada thd misi mereka.
CUSTOM (BC) harus tahu apa tujuan mereka k Indonesia.
pak RT juga ikut andil, jangan takut jabatanya hilang…
Indonesia Tanah Air Ku!
MERDEKA!!!
Sekali MERDEKA tetap MERDEKA!!!
MEMPERTAHANKAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA!!!
MEMBELA NEGARA KITA!!! adalah KEWAJIBAN!!!
pancasila sudah final sebagai dasar bangsa indonesia, jangan digugat lagi.
kalau situ ngomong orang islam, sini juga orang islam
dalam islam diajarkan agar menjaga kerukunan antar pemeluk agama selagi si pemeluk lain gak ganggu ibadah kita
indonesia sudah rukun, jangani obok-obok negeri ini dengan isu yang bisa memecah belah
Wah jadi pnas juga pengen berkomentar… Emangnya nyang pade ngaku peduli Pancasila pade pake tu aturane dalam kehidupan… Setawku juga, HTI tidak pernah yang namanya melakukan aksi brutal or menginginkan perpecahan di negeri ini. Bahkan HTI paling getol ingin mempertahankan keutuhan negeri ini bahkan akan lebih luas lagi, di saat segolongan orang yang ngaku cinta ma Indonesia cuek bebek atau bahkan mencoba mentutup mata dan telinga. Jadi bukan kayak sekarang, banyak yang pengen copot dari Indonesia karena memang daerah itu merasakan ketidakailan atas mereka. Katanya kekayaan alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, Ee.. ternyata untuk kemakmuran orang-orang yang punya modal termasuk negara Asing. Mungkin kita perlu belajar untuk melihat masalah dari permukaannya saja…kita harus bisa berfkir cerdas biar ga’ gampang dibodohi donk…
pancasila yang mana yah ? versi kapitalis, komunis, islam.
wul=wul
ente tuh masih kurang gaul ya (mungkin anda yg hanya melihat/ diperlihatkan masalah dari permukaanya saja).
waqaqaqaqaqaq…. baru belajar memutar balikan fakta ya… kalo mau belajar saya saranin (maaf ya) sama orang cina. krn mereka sangat ahli dalam memutar balikkan fakta. plus sama orang yahudi, karena mereka umat yang paling pintar.
kalo rakyat Indonesia itu jarang ada yg pinter. kalo pinter paling2 cuma di sekolahan saja dengan rangking atau istilah kampusnya IPK itu lho.
kalo dilapangan mah jeblok lah nilainya. krn mereka biasa dengan melihat tuisan2 saja.
yah saya teh cuman usaha dan berdoa saja, dari pada mempengaruhi orang2 yang sudah dipinterin orang. waqaqaqaqaq…
santai tapi berarti…
God blezz all…
sebaiknya negeri ini tidak punya ideologi sebab sudah terbukti ideologi hanya bikin pertumpahan darah. hidup aja yang bener, ikutin ajaran agama masing2. jangan saling ganggu. klo punya kekuasaan inget bahwa ada yang lebih berkuasa dari kita yaitu TUHAN. udah lah jangan berantem terus mikirin ideologi orang, lagian ga ada kerjaan apa?
Sebenar na Qt hrs bersikap BIJAK dlm hal ini…
Sbnr na Syariat Islam atau pun Pancasila…
Sama sekali tdk akan berjalan d Negeri ini…
Skrg Sy ingin bertanya kpd anda semua…
Anda memperjuangkan Syariat Islam tegak d Indonesia apakah anda sdh mengerti hakikat Syariat Islam tu sendiri???.Klo anda sendiri pun masih bersikap tdk BERAKHLAQUL KARIMAH percuma anda mengatakan anda memperjuangkan Syariat Islam…
Anda memperjuangkan Pancasila tegak d Indonesia apakah anda sdh mengerti hakikat Pancasila itu yg d perjuangkan oleh para petinggi”bangsa ini???.Klo anda sendiri masih menyalahi sila”yg ada d Pancasila Sy rasa tdk pantas anda mengatakan bhw anda menegakkan Pancasila…
Jd Qt hrs bersikap bijak apapun ideologi bangsa ini klo Qt dari dlm diri sendiri tdk meluruskan AKHLAQ maka HANCUR lah Bangsa ini…
Krn yg menghancurkan Negara ini bukan lah krn Ideologi melainkan AKHLAQ Qt yg BURUK…
Syukron…
Wass.Wr.Wb.
[...] Agustus 12th, 2007 Categories: Demokrasi, Politik . Author: ideologipancasila . Comments: 11 Comments [...]
DARI ALBI FITRANSYAH
UMAT ISLAM SELURUH DUNIA, GUNAKANLAH RUKYAT KOTA
KONSEP RUKYAT KOTA YANG TERINTEGRASI SELURUH KOTA-KOTA DI DUNIA
Assalamu’alaiukum.
Saya seorang pengamat astronomi & seorang matematika.
Berdasarkan pemahaman saya & kesepakatan dari ahli astonomi muslim , bahwa ada beberapa ketentuan internasional mengenai penanggalan islam , yaitu:
1. Rukyat hilal
adalah dasar pergantian bulan-bulan qamariyah.
2. Pola pergerakan Bumi, Bulan, dan Matahari telah menyebabkan belahan Bumi yang pertama kali mengalami rukyat hilal selalu berubah-ubah setiap bulan.
3. Umur bulan qamariyah secara syar’i adalah 29 atau 30 hari.
4. Umur tanggal adalah setara dengan umur hari, yakni 24 jam , karena tidak logis ada tanggal yang umurya hanya beberapa jam saja atau adanya keragu-raguan, sebanarnya setelah lewat maghrib, masih tanggal berapa sih? Apa sudah tanggal baru atau masing tanggal lama.
5. Saat pergantian tanggal di dalam kalender qamariyah adalah pada waktu ghurub Matahari .
Dalam Muktamar ke-30 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Lirboyo tahun 1999, rukyat internasional menjadi salah satu agenda bahasan Bahtsul Masail Diniyah. Permasalahannya adalah apakah boleh penentuan awal bulan qamariyah atau hijriyah, khususnya Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah, didasarkan atas rukyat internasional?
Dengan pendekatan fiqh, muktamirin memutuskan bahwa penggunaan rukyat internasional untuk penentuan awal bulan qamariyah dengan mengenyampingkan batas-¬batas matla’ tidaklah dibenarkan.
Di dalam wacana fiqh, jawaban untuk masalah ini diwakili oleh dua teori, yakni teori ittifaq al-Matali’ yang disusun oleh mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali, dan teori ikhtilaf al-Matali’ yang dibangun oleh mazhab Syafi’i. NU, sebagai ormas keagamaan Islam yang akrab dengan belukar pemikiran fiqh mazhab Syafi’i, tentu saja condong berpegang pada teori ikhtilaf al-mntali’.
Menurut teori ittifaq al-Matali’, peristiwa terbit hilal yang dapat dirukyat dari suatu kawasan Bumi tertentu mengikat seluruh kawasan Bumi lainnya di dalam mengawali dan menyudahi puasa Ramadhan. Dasarnya ialah bahwa sabda Nabi Muhammad SAW: Sumu liru’yatihi… (berpuasalah kalian karena melihat hilal), itu ditujukan untukseluruh umat secara umum, sehingga apabila salah seorang dari mereka telah merukyat hilal, di belahan Bumi mana pun ia berada, maka rukyatnya itu berlaku juga bagi mereka seluruhnya.
Sedangkan menurut teori ikhtilaf al-Matali’, rukyat hilal itu hanya berlaku untuk kawasan rukyat itu sendiri dan untuk semua kawasan lainnya yang terletak di sebelah baratnya. Sedangkan untuk sebelah timurnya, rukyat hilal itu hanya berlaku bagi kawasan yang berada di dalam atau tidak melampaui ¬batas matla’.
Rukyat di suatu kawasan, menurut teori ini, tidak dapat diberlakukan untuk seluruh dunia karena, pertama, berdasarkan riwayat Kuraib yang ditakhrij oleh Imam Muslim, bahwa Ibnu Abbas yang tinggal di Madinah menolak berpegang pada rukyat penduduk Syam kendati telah diisbat oleh khalifah Mu’awiyah. Ibnu Abbas mengemukakan alasan, Hakadza Amarana Rasulullah (Begitulah Rasulullah menyuruh kami). Kedua, adanya perbedaan terbit dan terbenam Matahari di pelbagai kawasan di Bumi menyebabkan tidak mungkin seluruh permukaan Bumi disamaratakan sebagai satu matila’.
Karena “ajaran” perbedaan matla’nya inilah, teori ikhtilaf al-Matali’ dengan mudah dipersepsi sebagai biang terjadinya perbedaan hari dalam memulai maupun mengakhiri puasa Ramadhan di berbagai kawasan di Bumi. Bahkan, lebih jauh, teori ini pun kemudian dituding sebagai pemicu perpecahan umat
Maka, dalam beberapa tahun terakhir ini muncul di kampus-kampus gerakan untuk memasyarakatkan teori ittifaq al-Matali’ (kesatuan matla’ intemasional) yang diharapkan menjadi jurus pamungkas pemersatu awal dan akhir Ramadhan di seantero dunia. Malah bila perlu, untuk menuju kesatuan waktu ibadah tersebut kaum muslimin digalang untuk bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam sejagat (khilafah).
Tapi persoalannya, logiskah perintah Nabi SAW, Sumu liru’yatihi… itu difahami sebagai dalil yang menghendaki berlakunya rukyat secara intemasional? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihatnya dengan pendekatan yang proporsional.
Pertama, kiranya kita sepakat bahwa hadis kandungan di atas adalah petunjuk tentang penentuan waktu memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan. Karena berkenaan dengan waktu, maka pemahaman akan implementasinya haruslah menggunakan logika sistem perjalanan waktu, bukan logika pengertian bahasa.
Kedua, sunnatullah tentang sistem perjalanan waktu di Bumi adalah bersifat setempat-setempat (lokal), tidak bersifat global. Waktu di Bumi mengalir dari timur ke barat sejalan dengan aliran siang dan malam. Kawasan di timur mengalami syuruq dan ghurub Matahari lebih dulu daripada kawasan di barat. Semakin jauh jarak barat-timur antar kedua kawasan, semakin besar beda waktu antara keduanya. Maka, orang yang melakukan perjalanan jauh, melepaskan diri kawasan tinggalnya, akan menghadapi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan beda waktu.
Dengan begitu, semua waktu yang disebut di dalam dalil-dalil syari’at logisnya adalah dipahami sesuai logika sistem perjalanan waktu di Bumi yang bersifat setempat-setempat itu. Kalau pada saat ghurub Matahari di Indonesia hilal belum bisa dirukyat, adalah tidak logis kalau kita kemudian mengikuti rukyatnya orang Mekah. Sama persis tidak logisnya dengan memahami masuknya waktu Zuhur untuk Indonesia pada kira-kira pukul 4 sore karena mengacu pada “tergelincir Matahari” nya Mekah, atau pada kira-kira pukul 10 pagi karena mengikuti “tergelincir Matahari”nya Tokyo.
Kasus:
a. Dalam kaitannya dengan penampakan hilal, di Indonesia pada tanggal 11 Oktober 2007 terdapat 2 daerah yang dipisahkan oleh sebuah garis, sebut saja garis batas wujdul-hilal untuk mudahnya(lihat gambar).
b. Daerah sebelah barat garis batas wujdul-hilal dipastikan (insya Allah) hilal sudah dapat dilihat.
c. Daerah sebelah timur garis batas wujdul-hilal dipastikan (insya Allah) hilal belum dapat dilihat.
Dengan demikian bila rukyat dilakukan di Jakarta (sebelah barat garis batas wujdul-hilal) pada tanggal 11 Oktober 2007 di waktu magrib, maka hasilnya menyimpulkan bahwa besoknya (tanggal 12 Oktober 2007) adalah 1 Syawwal 1428 H. Tetapi kalau rukyat itu dilakukan di Samarinda atau Menado atau Ambon yang letaknya di sebelah timur garis batas wujdul-hilal maka hasilnya, insya Allah, menyimpulkan bahwa besoknya (tanggal 12 Oktober 2007) belum 1 Syawwal.
Butir kedua prinsip kesatuan wilayatul-hukmi essensinya mengatakan bahwa Muhammadiyah menganut prinsip “hanya ada satu Lebaran untuk satu negara”. Prinsip ini nampaknya dianut juga oleh kubu rukyat dan kubu Pemerintah. Buktinya, sepanjang sejarah kubu-kubu ini tidak pernah menetapkan dua daerah Lebaran di Indonesia. Catatan: Dua wilayah hari Raya tidak sama dengan hari Raya ganda. Hari Raya ganda maksudnya ada dua hari Raya untuk satu tempat.
Isu Utama dan Isu Minor
Sepanjang pengamatan kami, ada isu yang dihembuskan sebagai isu utama sebagai sumber perbedaan dalam menyimpulkan akhir/awal Ramadan, yaitu masalah definisi hilal. Isu ini minor karena kesepakatan dapat dilakukan dengan mudah jika kedua pihak-pihak yang berbeda pendapat ini keluar dan melihat hilal secara langsung dan sepakat benda itulah yang disebut hilal. Isu yang lebih utama lagi sebenarnya adalah prinsip kesatuan wilayatul hikmi. Secara kenyataan bahwa Indonesia tahun ini akan mempunyai dua zona penampakan hilal. Ini akan menimbulkan persoalan bukan saja bagi kubu hisab tetapi juga kubu rukyat kalau metodanya menggunakan prinsip kesatuan wilayatul hukmi. Lalu bagaimana menyatukannya? Apakah 1 Syawwal mengikuti daerah yang sudah ada penampakan hilal atau harus tunggu sampai semua daerah sudah ada penampakan hilal? Apapun keputusannya hasil akhirnya akan bersifat “tanpa dasar yang logis” (arbitrary). Jangan heran kalau pendapat ulama, bahkan imam mazhab berbeda-beda. Menurut Imam Hanafi dan Maliki, kalender kamariah harus sama di dalam satu wilayah hukum suatu negara, inilah prinsip wilayatul hukmi. Sedangkan menurut Imam Hambali, kesamaan tanggal kamariah ini harus berlaku di seluruh dunia, di bagian bumi yang berada pada malam atau siang yang sama. Sementara itu, menurut Imam Syafi’i, kalender kamariah ini hanya berlaku di tempat-tempat yang berdekatan, sejauh jarak yang dinamakan mathla’. Inilah prinsip matlak madzhab Syafi’i.
Yang menarik adalah pendapat Ibn Abbas, salah satu ulama yang pernah hidup di masa Rasullulah. Riwayat Kuraib yang diceritakan oleh Muslim bahwa Khalifah Mu’awiyyah di Damaskus shaum/puasa pada hari Jumat sementara Ibnu Abbas di Madinah shaum/puasa pada hari Sabtu. Ketika Kuraib bertanya kepada Ibnu Abbas kenapa tidak berbarengan saja dengan Mu’awiyyah, Ibnu Abbas r.a. menjawab : “Tidak, beginilah Rasulullah saw, telah memerintahkan kepada kami”. Yang dimaksud oleh Ibnu Abbas tentu saja hadist nabi saw yang dikutip di atas. Padahal Damaskus dan Madinah waktu itu masih dalam satu wilayah hukum/satu kekhalifahan.
Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada ayat al-Quran atau hadist yang bisa dikatakan memenuhi persyaratan cukup untuk menunjang konsep prinsip kesatuan wilayatul hukmi Ada hadist yang kadang diajukan sebagai dalil untuk penerapan prinsip kesatuan wilayatul hukmi, yaitu:
Bahwa seorang Arab Baduwi datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata: “Saya telah melihat hilal (Ramadhan)”. Rasulullah saw. lalu bertanya: “Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah?” Orang itu menjawab,’Ya.’ Kemudian Nabi SAW menyerukan: “Berpuasalah kalian” (HR. Abu Dawud, An Nasa`i, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas).
Tetapi hadist ini tidak bisa memenuhi syarat cukup sebagai dasar argumen untuk penerapan prinsip kesatuan wilayatul hukmi. Dalam hadist ini tidak disebutkan adanya isu perbedaan zona penampakan hilal. Apakah orang badui ini melihatnya di tempat yang jauh dari Madinah (tempat tinggal rasullulah) yang memungkinkan adanya perbedaan zone penampakan hilal? Tidak ada penjelasan
Dengan kata lain, dasar hukum penggunaan prinsip kesatuan wilayatul hukmi tidak ada mempunyai persyaratan yang cukup. Para mazhab tidak punya kesamaan dan tidak diatur dalam hadist atau al-Quran.
Pertama harus diakui bahwa tidak benar cara hisab dan rukyat adalah isu utama dari perbedaan hasil penentuan 1 Syawwal.
Kedua harus diakui bahwa prinsip kesatuan wilayatul-hukmi adalah salah tempat dan salah applikasi. Prinsip kesatuan wilayatul-hukmi sebagai opini ulama, tidak bisa membatalkan hadist untuk menentukan akhir puasa (shaum) atau al-Quran untuk menentukan tanggal. Oleh sebab itu di Indonesia yang wilayahnya membentang sangat lebar (5,271 km) dan luas (1,919,440 km persegi) tidak mungkin selalu diberlakukan 1 hari Lebaran, tanpa melanggar juklak dari rasullulah (hadist nabi) dan pedoman al-Quran. Kadang-kadang Lebaran di Jakarta dan di Menado berbeda. Seperti halnya waktu sholat, waktu puasa dan Iedul Fitri tidak perlu sama untuk semua wilayah republik Indonesia. Jadi tahun ini ada dua wilayah Iedul Fitri di Indonesia, bukan dua Lebaran. Wilayah pertama adalah sebelah barat garis batas wujdul-hilal seperti kepulauan Tanibar, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat serta daerah-daerah di sebelah baratnya akan berhari Raya pada tanggal 12 Oktober 2007. Selebihnya dibagian timur akan berhari Raya pada tanggal 13 Oktober 2007).
Kesimpulan:
1. Di dalam kalender Islam terdapat garis tanggal wujudul hilal dan visibilitas hilal, yang dapat membelah bumi dengan posisi kemiringan tertentu. Sehingga selalu, dari batas garis wujudul hilal tersebut ke arah barat , kemungkinan melihat hilal semakin mungkin.
2. Garis tanggal pembeda di atas pada setiap bulan dalam penanggalan Islam akan berubah-ubah letak dan posisinya. Jadi, bisa saja membelah suatu negara yang sangat luas.
3. Seharusnya, dalam menentukan awal bulan, dalam hal ini penanggalan Islam, hendaknya saya mengusulkan agar, membuat DAFTAR KOTA-KOTA YANG SUDAH MASUK TANGGAL 1 ATAU BELUM. Misal:
-Daftar kota-kota di seluruh dunia yang sudah masuk tanggal 1 adalah:
Jakarta, Tanggerang, Pontianak, Padang, Medan, Aceh, Kuala Lumpur, Penang, Bangkok, New Delhi, Jeddah, Riyadh, Mekkah, Madinah, Kairo, London, dan seterusnya sampai ke barat sampai bertemu di titik garis wujudul hilal kembali>
-Daftar kota-kota di seluruh dunia yang belum masuk tanggal 1 adalah:
Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Ujung Panjang, Jayapura, Tokyo, terus ke barat sampai bertemu di titik garis batas wujudul hilal tadi
Sehingga, saya atas nama ahli falaq mengusulkan kepada Pemerintah Republik Indonesia, Departemen Agama RI, agar jika garis tanggal Wujudul hilal dan visibilitas hilal melewati Negara Indonesia, maka harus dilakukan pembagian wilayah waktu tanggal, seperti disebutkan sebelumnya.
4. Tidak menjadi masalah dalam 1 negara terdapat 2 penanggalan yang berbeda . Tetapi dalam 1 kota diharuskan berada pada hari yang sama.
5. Berdasarkan garis wujudul hilal dan visibilitas hilal di atas, kota-kota yang belum dapat melihat hilal tadi pada Ghurub Maghrib di tempat terbitnya hilal pertama kali, secara ilmiyah, pasti besoknya pada Ghurub matahari hari berikutnya pasti hilal akan nampak juga.
6. HIZBUT TAHRIR, adalah salah. Jika kita akan menggunakan penanggalan apapun, pastinya harus ada garis tanggal yang membelah bumi menjadi 2 bagian yang berbada.
7. HIZBUT TAHRIR telah mencampur adukkan penanggalan Islam dengan penanggalan Masehi.
8. HIZBUT TAHRIR tidak memahami syarat-syarat penanggalan.
9. Dengan menggunakan dan mengetahui garis tanggal wujudul hilal, maka tidak akan mengalami kekacauan penanggalan.
10. Meskipun dunia telekomunikasi, internet, satelite, telah maju, sehingga seluruh dunia dapat menerima kabar hilal di suatu tempat, maka :
JANGAN MEMEBRIKAN INFORMASI MUNCULNYA HILAL DI SUATU KOTA KEPADA ORANG YANG BERADA DI SEBELAH TIMUR.
BERITAKANLAH KABAR MUNCULNYA HILAL KEPADA KOTA-KOTA YANG BERADA DI SEBELAH BARATNYA.
11. Bumi adalah bulat. Tidak Datar.
12. Jika tidak ada garis tanggal wujudul hilal dan visibilitas hilal, maka akan kacaulah penanggalan islam yang digunakan.
13. HIZBUT TAHRIR TIDAK MEMAHAMI KAJIAN ILMIYAH ASTRONOMIS YANG ADA
14. Seperti halnya, jadwal sholat, yang mana setiap kota di seluruh Indonesia berbeda-beda. Di Jakarta, maghrib jam 18.00 WIB, sedangkan di Bandung maghrib jam 17.55 WIB. Di Jogja maghrib jam 17.46 WIB.
Jadi, dalam hal ini wujudul hilal sebagai pembelah bumi juga harus ada.
15. Dilema yang muncul bila sistem hilal global dipergunakan sebagai acuan adalah pada awal dan akhir ibadah shaum, di bagian timur garis pergantian bulan umat Islam akan berpuasa sebelum waktunya (hilal penentu awal shaum belum ada). Bila awal shaum menunggu pengamat bagian barat dapat melihat hilal, berarti sebagian umat Islam di sebelah timur akan memulai puasa selepas fajar subuh bahkan setelah terbit matahari. Sebaliknya bisa terjadi sebagian Muslim di barat memulainya selepas fajar subuh sehari sebelumnya, bila hilal telah berhasil diamati di bagian timur garis tanggal.
MATEMATIKAWAN, & PENGAMAT ASTRONOMI MUSLIM, ALBI FITRANSYAH,S.Si
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN KETUHNAN YANG MAHA ESA
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN PANCASILA DAN UUD 1945
BENDERA KITA MERAH PUTIH
LAMBANG NEGARA KITA BURUNG GARUDA PANCASILA
Menyimak berbagai pandangan yang ada di forum ini, baik yang disertai dengan fakta atau “asal berpendapat” ada hal yang harus kita renungi dan pertanyakan bersama, jangan-jangan cara kita memahami Pancasila atau persepsi kita tentang pancasila yang tidak sama. Kalau Pancasila merupakan bentuk kompromi dari berbagai unsur bangsa yang beragam, semua unsur tersebut harus memiliki pemahaman yang sama, kalau tidak, pasti yang ada adalah pertentangan dan perpecahan. Sebagai gambaran, apakah sila keempat itu identik demokrasi sebagaimana demokrasi yang dipahami dan dianut oleh orang-orang barat dimana diberlakukan one man one vote dan keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. Kalau benar demikian, mestinya kalau ada wacana diterapkan syariah Islam tidak usah disalahkan. yang mengambil keputusan kan rakyat. kalau mayoritas rakyat setuju, mestinya semua juga harus setuju. demikian halnya sebaliknya, kalau rakyat mayoritas menolak ya tidak bisa dipaksakan.
Kadang-kadang kita nggak konsisten, pada satu sisi kita agung-agungkan demokrasi, tetapi setelah melewati proses demokrasi dan hasil keputusan tidak sesuai dengan keinginan kita, lantas kita tolak dengan dalih negara ini kan bukan negara agama. Loh piye to iki. Jerene ngerti pancasila, jarene ngerti demokrasi, tapi ketika ada wacana, buru-buru ditolak padahal belum ada proses pengambilan keputusan.
kalau memang kita menjunjung demokrasi dan pancasila, mari kita berlomba-lomba meyakinkan kepada rakyat dengan cara yang bijak, obyektif dan satria. Biarkan masyarakat yang memilih. Meyakinkan masyarakat itu tidak perlu menjelekkan orang lain. Masyarakat kan sudah pandai dan mempunyai pendirian. kadang-kadang kita merasa masyarakat nggak paham dan kita yang paham. Kalau begitu, ya repot lah.
So, mari kita samakan persepsi kita tentang pancasila, baru kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Asal dilakukan dengan jujur, bijak dan tidak emosional. Salam
Sederhana saja, apakah umat Islam sudah siap jika negeri ini menggunakan syari’at Islam ? jangan cuma jadi bahasa bibir untuk menarik perhatian ? sebaiknya jangan terlalu muluk-muluk apalagi yang berskala nasional_diri sendiri saja dulu, masalah kita bukan karena ideolog, agama, maupun isu SARA_kalau kita mau maju dan memperbaiki negeri ini benahilah mental_karena itulah satu-satunya kelemahan kita.
Mari satukan tekad, majukan negeri ini…..hidup atau mati kita adalah bangsa indonesia
Nama saya Reagan, saya seorang Katolik. Saya sangat mendukung pluralisme, saya mendukung dan bangga dengan apa yg telah di nyatakan NU dan Muhammadiyah bahwa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika adalah ideologi final bagi Ibu Pertiwi kita tercinta ini, bangsa Indonesia, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika adalah pemersatu bangsa, tanpa Pancasila akan terjadi perpecahan bangsa, NKRI akan runtuh. Oleh karena itu kewajiban kita semua sebagai anak bangsa, kita orang Indonesia, Katolik, Protestan, Islam, Buddha, Hindu, Konghucu, dan bahkan agama agama lain yg ada di dalam Indonesia wajib mempertahankan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, karena Pancasila tidak bisa di pisahkan dari Indonesia, seperti motto kota Manado, ”kita semua saudara” selayaknya kita jadikan contoh untuk hidup rukun, saling menghormati dan penuh pluralisme, mari kita semua bersatu dan berjuang untuk kemajuan bangsa Indonesia dan wajib mempertahankan Pancasila.
yang buat artikel ini kayaknya benci kali sama organisasi2 islam mecam FPI,HTI MMI dll,
apa sich yg membuat sedemikian benci sehingga tega menfitnah spt ini….itulah susahnya kalo terlalu banyak belajar ama orang yg tidak tahu islam. kalaupun penulis aartikel ini orang islam tentu terlalu banyak belajar islam dari amerika, soalnya cara berpikirnya kayak agen zionis..!!!!
Pancasila itu dasar negara. Apabila anda tidak setuju dengan Pancasila ya jangan tinggal di Indonesia dan jangan sekali-sekali ngaku orang Indonesia. NKRI HARGA MATI !!!
Menurut Din, gagasan untuk menegakkan khilafah sekarang ini mempunyai makna esensial perlunya persatuan umat Islam. Oleh karena itu penegakan khilafah harus tetap dalam kerangka NKRI. ”Khilafah seperti itu menolak separatisme pada satu sisi dan universalisme pada sisi lain,” katanya.
Sebagai manifestasi persatuan umat Islam khilafah tidak boleh mengurangi inklusifisme dan pluralisme bangsa. Kepada semua pihak diimbau untuk tidak perlu khawatir dengan wacana khilafah sebagai bagian dari proses demokrasi dan pluralisme. ”Justru sikap menolak dan mengecam wacana yang hidup di kalangan bangsa bisa bersfat antidemokrasi dan pluralisme.”
Soal kehadirannya pada acara tersebut, Din mengatakan, kita harus bersikap adil pada saudara sendiri. ”Saya sering hadir pada acara Buddha dan Konghocu, masak diundang saudara sendiri tidak,”jawabnya.
dari pernyataan din samsudin
menuju umat islam bersatu…kapan ya…?
saya mao cari tantangan yang bisa mengancam eksistensi (keberadaan) pancasila
N cara menghadapi nya T_T
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’laikum. Warahmatullahi wabarakatuh.
Albi Fitransyah, S.Si.
Dengan hormat,
Kepada seluruh pengguna Internet sebagai media penyalur aspirasi, bahwasanya saya yang bernama Albi Fitransyah, S.Si menyatakan bahwa: ”Tulisan yang dimuat sebelumnya yang bernada tinggi dan keras adalah bukan tulisan saya.” Setelah hampir 2 tahun lamanya, ada orang (hacker/cracker) yang telah menerobos email saya, sehingga bisa mengetahui email dan password untuk menggunakan email saya. Setelah itu, saya langsung lapor ke yahoo.com, setelah itumulai tahun 2009, saya dapat menggunakan kembali email tersebut.
Albi juga tidak menyalahkan pendapat Rukyat Global. Rukyat Global = Benar. Rukyat lokal = Benar.
Apabila ada kalimat/pernyataan yang salah/menyinggung, sekali lagi Albi ucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.
Demikian. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum.Warahmatullahi Wabarakatuh.